Friday, October 26, 2012

Pacaran Menurut Alkitab


Pacaran Menurut Alkitab
Pdt. Ignatius Budiono S,Th. - Jumat, 26 Oktober 2012

Bab I
Berpacaran adalah konsep masyarakat modern. Pada masa lampau tidak ada istilah pacaran karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga kedua belah pihak. Dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, membawa perubahan bagi generasi muda dimana terjadi pergaulan dan menuju kedewasaan bersama. Dalam pergaulan seringkali berkembang pada hubungan-hubungan yang menjurus kepada persahabatan atau kepada pacaran.

Bab II
Pacaran merupakan dampaka dari adanya pergaulan yang memunculkan hubungan (muda-mudi) berlawanan jenis berdasarkan rasa cinta. Pacaran merupakan suatu proses penjajakan kemugkinan adanay kesepadanan yang dapat dilanjutkan ke dalam perkawinan. Maka pacaran bukanlah sekedar bersenang-senang melampiaskan nafsu, mengisi kekosongan, tetapi suatu keseriusan dan kesungguhan untuk menjalin hubungan yang menuju perkawinan.
Namun pada umumnya orang salah menginterpretasikan persepsi pacaran yang sesungguhnya dengan menyalahgunakan praktek berpacaran itu sendiri, sehingga menimbulkan dampak yang negatif misalnya berganti-ganti pacar, saling medewakan, melampiaskan hawa nafsu seksual yang tidak wajar dan belum saatnya dilakukan.
Sayangnya banyak orang terburu-buru dalam proses ini, sehingga masih terlalu muda sudah ada remaja yang jatuh cinta dan bahan merasa yakin bahwa orang yang diidamkan itu pasti merupakan pasangan hidupnya. Ada juga yang pada masa pacaran orang sudah memanggil papi mami, papa mama, ayah bunda.
Apa yang terjadi bila hubungan tersebut putus? Yang terjadi adlah kepahitan dan kekecewaan yang mendalam karena seolah-olah seluruh harapan sudah ditumpahkan kepada sang pacar.

BAB III
Secara tertulis, Alkitab tidak pernah menyinggung mengenai pacaran, tetapi ada kisah-kisah dalam Alkitab yang menceritakan kisah hidup seorang pemuda yang begitu sangat mencintai ‘seorang wanita’, namanya Yakub (Kej. 29:18)
Kisah ini memang tidak dicatat secara terperinci, tetapi yang jelas Yakub mendapatkan Rahel setelah ia bekerja dengan penuh kesungguhan selama tujuh tahun tujuh hari, tetapi ia harus menambah tujuh tahun lagi. Hal ini membutuhkan kesabaran/ketabahan yang luar biasa.

Bagaimana berpacaran menurut konsep Alkitabiah :
Ø  Harus didasari kasih Allah
Orang dunia mengatakan bahwa asmara itu adalah cinta dan sangat dibutuhkan bagi orang yang berada pada masa pacaran. Tetapi pada dasarnya asmara itu bukan cinta. Cinta kasih atau Kasih menurut Alkitab dapat kita baca dalam I Korintus 13:4-7.
     “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Cinta yang benar tidak dapat dijadikan topeng untuk suatu maksud atau motivasi tertentu, cinta yang benar tidak mementingkan diri sendiri. jadi pacaran yang benar harus berorientasi pada kasih akan Allah, dimana kepentingan Allah yang harus diutamakan atau diprioritaskan dalam hubungan pacaran itu. Kita harus menunjukkan gaya hidup yang disetujui oleh Allah, bukan berpusat pada diri sendiri

II Korintus 6:14
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Ø  Harus mengikuti standar moral Alkitab
Telah dikatakan dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Dengan kata lain jangan berpacaran cara duniawi karena berbeda dengan pacaran yang bertanggung jawab kepada Allah.
Perbedaannya yaitu :
a.    Pacaran duniawi bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan dalam hubungan cinta dengan pertimbangan ‘mungkin besok sudah mencari pacar baru lagi’. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihathubungan pacaran sebagai kemungkinan titk tolak yang menuju lorong rumah nikah.
b.    Pacaran duniawi memanfaatkan tubuh pasangannya unutuk memuaskan perasaan seksual, mula-mula pada tingkat ciuman dan pelukan, namun kemidian gampang menjurus kepada tingkat hubungan seksual. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan melihat tubuh pasangannya sebagai rumah kediaman Roh kudus (I Kor. 3 :16) yang dikagumi dan dihargai sebagai ciptaan Allah yang nanti dimiliki dalam rumah nikah.
c.     Pacaran duniawi berorientasi masa kini, seringkali mengakibatkan luka-luka yang dalam bila terjadi perpisahan. Pacaran yang bertanggung jawab kepada Tuhan berorientasi pada masa depan (hari esok), membatasi hubungan intim jasmani dengan kesadaran bahwa pacaran ini belum mengikat.
Ada empat tingkat intensitas hubungan fisik, dimulai dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Keempat tingkat tersebut adalah :
a.    Berpegangan tangan
b.    Saling memluk, tetapi tangan masih diluar baju
c.     Berciuman
d.    Saling membelai dengan tangn di dalam baju
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Efe 4:17-21) menyiratkan bahwa orang-rang kristen harus meghindari percumbuan dalam masa berpacaran, sebab tindakan tersebut merupakan penyerahandiri kepada seksualitas, membiarkan hawa nafsu berperan, yang nantinya akan membawa kepada kecemaran dan pelanggaran kehendak Allah.

Jadi berpacaran itu mempunyai batasan-batasan tersendiri, karena pacaran itu tidak sama dengan pertunangan dan  perkawinan. Artinya sang pacar bukanlah suami atau istri sehingga tidak boleh diperlakukan demikian.

BAB IV
Agar pemuda-pemudi di dalam Kristus tidak berdiri dengan menangis dan menyesal pada puing-puing ketentuan yang mereka sudah setujui bersama pada awal hubungan mereka, maka segala pergaulan harus berorientasi keempatnasihat Firman Tuhan,
1.     Berdoalah senantiasa (1 Tes 5:17) ; khususnya pada waktu berpacaran
2.     Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu (Efe 5:20)
3.     Lakukanlah segala sesuatu berdasarkan iman (Roma 14:23) ; setiap langkah dalam hubungan pacaran mempunyai dimensi ke atas yaitu tanggung jawab kepada Tuhan
4.    Pandanglah tubuhmu dan tubuhnya adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu (I Kor 6:19-20) karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu

No comments:

Post a Comment